Langsung ke konten utama

REVIEW BUKU ANIMAL FARM



Hula...

Pernah ga sih temen-temen baca buku yang awalnya seperti dongeng anak, tapi lama-lama kerasa berat dan relate dengan kehidupan manusia?

Apa kabar man-teman? Kali ini aku ingin membahas salah satu buku keren karya George Orwell yang berjudul Animal Farm. Dari judulnya, sudah bikin penasaran, ditambah gambar covernya yang menggambarkan babi imut nan kyut. Hahaha..

Sebelum masuk ke isi bukunya, aku informasikan dulu ya, buku ini terbit pertama kali tanggal 17 Agustus 1945 lho. Meski demikian, teman-teman tetap bisa mencari bukunya di toko buku atau market place. Buku ini merupakan novel pendek gaya fabel yang menggambarkan kehidupan sekelompok hewan di sebuah peternakan. Menariknya, latar dalam cerita ini ditulis berdasarkan peristiwa nyata, sehingga tulisannya lebih bersifat mengkritik sistem politik yang pernah terjadi.

Baiklah, mari kita mulai membahas isinyaaaa...

Awal dari cerita ini ditulis dengan sederhana, dengan menceritakan kehidupan sekelompok hewan peternakan yang merasa ditindas oleh pemiliknya. Ini yang menjadi alasan mereka untuk melakukan pemberontakan untuk mendapatkan kebebasan dan kesetaraan. Dalam buku ini, dituliskan bagaimana para hewan ini bersatu, berencana, dan beraksi melawan manusia. Epic!!! 

Akan tetapi, rupanya ga semudah itu kebebasan didapat dan dipertahankan ya,, Menciptakan dunia yang bebas dan setara ternyata tidak sesederhana memenangkan permainan perang-perangan. Keberhasilan dari pemberontakan tidak menjamin runtuhnya kekuasaan. Justru, memberikan kesempatan kekuasaan baru untuk tumbuh. Kejadian ini digambarkan secara perlahan di mana slogan awal "Semua hewan setara" mengalami revisi halus "Semua hewan setara, tapi beberapa hewan lebih setara daripada yang lain.”

Di sini, teman-teman akan mulai merasa bagaimana cerita dalam novel ini justru lebih dekat dengan kehidupan manusia. Meskipun ceritanya ditujukan tentang penggambaran revolusi Rusia pada masa itu, tapi kalian pasti juga akan setuju bahwa isinya masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Buku ini mencerminkan bagaimana perilaku sosial saat ini mengenai politik dan kekuasaan. Dari ambisi pribadi, pejuang yang kemudian malah ikut menjadi bagian dalam sistem yang mereka lawan sebelumnya, dan meruaknya propaganda yang semakin menjamur melalui media sosial. 

Buku ini tipis, tapi maknanya sangat padat. Meski demikian, ceritanya sangat mudah untuk dicerna termasuk untuk yang tidak akrab dengan politik. Oh iya, ada bagian yang menarik di buku ini tentang literasi. Di sini, kita seakan diingatkan bahwa kemampuan literasi itu sangat penting, terlebih di zaman sekarang ini. Pentingnya untuk dapat lebih jeli dalam memahami makna di balik teks, tidak hanya sekedar membaca. 

Dari buku ini, aku belajar bahwa kekuasaan sekecil apapun, selalu ada celah untuk disalahgunakan. Kita bisa menjadi "babi" ketika lupa akan niat, tujuan, dan perilaku sendiri. Kesadaran diri adalah kunci untuk dapat menaklukkan ego sendiri, agar tetap berjalan dijalurnya. 

Minat untuk membacanya? Atau mungkin kalian akan baca ulang, untuk melihat siapa kita di lingkungan kita sekarang ini? 

Pamit dulu yaaa 😊


Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW BUKU THE OLD MAN AND THE SEA

Hulaaa... Halo teman, apa kabar? Hari ini sudah di akhir bulan ke-10 tahun 2025 yak. Haa,, cepat sekali waktu berlalu. Bulan Oktober ini aku akhiri dengan postingan review buku yang menarik, karangan Ernest Hemingway. Buku yang mendapat penghargaan Nobel Sastra dan terbit di tahun 1952, yakk! "The Old Man and The Sea"!!!! Aku beli bukunya beberapa bulan yang lalu dengan uang tunjangan  melalui aplikasi keranjang orens, di salah satu percetakan saat ada diskon di tanggal kembar. Bukunya kecil dan tipis. Jadi, buku ini bisa kita sebut novella atau novel pendek ya... Dari gambar covernya, sudah bisa kita lihat garis besarnya, yes,, nelayan dan ikan. Ikan besar. Tapi eh tapi, kenapa buku yang menceritakan nelayan nangkep ikan ini bisa sampe dapat penghargaan bergengsi? Pinisirin ga sih, wkwk.. Oke markiviw, mari kita review! Sebelum kita bahas isinya, baiknya aku critain dulu ya ringkasan ceritanya. Jadi ini tuh, cerita tentang seorang nelayan tua yang udah duda bernama Santiago ...

RAHWANA

  Menilik Kembali Sang Antagonis dalam Epos Ramayana Ni hao! Welcome December! Di hari keenam bulan penghabisan tahun 2025 ini, mari kita review salah satu buku yang sudah lama kita nantikan. Yuhuuuu RAHWANA, karangan Anand Neelakantan. Masih ingatkan, sama si Bapak ini? Ho'oh bener banget. Penulis Mahakurawa yang sudah pernah kita review beberapa bulan lalu. Buku ini ditulis setelah penulis melakukan penelusuran sejarah cerita dari beberapa wilayah di India. Dan, yang mungkin agak membuat alis kita berkerut adalah versinya. Di awal buku dipaparkan bahwa buku ini menceritakan tentang Kasih Rahwana kepada Sinta, anaknya. Loh, lah? wkwkkw .... Iyaaah pemirsa,, saya pun agak kecewa ketika menyadari bahwa di dalam buku ini tidak akan menyajikan syair-syair percintaan.  Tapi ya sudah, mari kita mulai mereview buku setebal 632 halaman ini.  Jika selama ini, kita mengenal Rahwana sebagai raksasa penculik Sints, maka dalam buku ini, kita akan membaca sesuatu yang jauh lebih rumit...