Halo teman, apa kabar? Hari ini sudah di akhir bulan ke-10 tahun 2025 yak. Haa,, cepat sekali waktu berlalu. Bulan Oktober ini aku akhiri dengan postingan review buku yang menarik, karangan Ernest Hemingway. Buku yang mendapat penghargaan Nobel Sastra dan terbit di tahun 1952, yakk! "The Old Man and The Sea"!!!!
Aku beli bukunya beberapa bulan yang lalu dengan uang tunjangan melalui aplikasi keranjang orens, di salah satu percetakan saat ada diskon di tanggal kembar. Bukunya kecil dan tipis. Jadi, buku ini bisa kita sebut novella atau novel pendek ya... Dari gambar covernya, sudah bisa kita lihat garis besarnya, yes,, nelayan dan ikan. Ikan besar. Tapi eh tapi, kenapa buku yang menceritakan nelayan nangkep ikan ini bisa sampe dapat penghargaan bergengsi? Pinisirin ga sih, wkwk.. Oke markiviw, mari kita review!
Sebelum kita bahas isinya, baiknya aku critain dulu ya ringkasan ceritanya. Jadi ini tuh, cerita tentang seorang nelayan tua yang udah duda bernama Santiago yang udah 84 hari ga dapet tangkapan saat melaut. Menurut orang-orang, kalau udah 85 hari ga dapat tangkapan, udah fix itu lagi kena sial banget. Apes parah. Nah, si Santiago ini yaqueen kalau dia bakal dapat ikan. Gongnya ada di hari ke-85 dia melaut, dapet ikan dia. Tapi gede, lebih gede dari perahunya. Mana lagi melaut sendiri pula. FYI, biasanya dia dibantu sama Manolin, bocah tetangga yang akhirnya disuruh ortunya buat bantu nelayan lain, selama Pak Santiago ini apes.
Yihaa,, gimana Pak San menghadapi ikan marlin raksasa ini di tengah laut diceritain sama Ernest dengan apik banget.
Setelah baca, aku nangkep bahwa buku ini ngasih pelajaran banyak banget buat pembacanya tentang bagaimana menjalani kehidupan yang dar der dor dan hah heh hoh. Membaca gimana perjuangan Santiago mengalahkan ikan marlin dan menghadapi halang rintang untuk membawa ikannya pulang itu, mengingatkan kepada kita, bahwa kemenangan bukan hanya tentang hasil akhir, tapi juga tentang proses bertahan dan berjuang dengan keteguhan. Ketenangan adalah kunci dalam berpikir dan mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi.
Salah satu kalimat yang menarik dari buku ini adalah :
“Now is no time to think of what you do not have. Think of what you can do with that there is”
Ketika menghadapi permasalahan, terkadang kita justru berlarut-larut mengharapkan bantuan yang tidak dapat kita raih, yang tidak ada. Padahal, solusi sebenarnya dapat dicari dari hal-hal yang ada dalam kontrol kita. Dalam buku ini juga digambarkan bahwa fokus, ketenangan, dan tekad adalah kunci dalam menghadapi permasalahan. Ketika Santiago merasa lebih lemah dan gesit dari para hiu, ia tetap yaqueen bahwa perjuangan apapun bisa memberikan kesempatan untuk menang.
"Dentuso was cruel and agile and powerful and clever. But I was cleverer than him. Perhaps not," he thought. "Perhaps it was only because I was better armed."
Secara keseluruhan, ceritanya bener-bener menginspirasi dan memberikan sudut pandang baru, bagaimana menilai sebuah kemenangan dan keberhasilan. Santiago sang nelayan, menjadi simbol manusia yang berjuang mempertahankan harga diri dan harapan di tengah pasang surut kehidupan. Melalui cerita yang ditulis dengan ringan namun sarat akan makna, tidak heran kalau novella ini bisa meraih penghargaan bergengsi.
Buku ini cocok untuk teman ngopi atau dongeng sebelum tidur. Sangat kurekomendasikan terutama untuk kaum-kaum yang butuh support dan dukungan dalam menjalani kehidupan yang aduhai. Temen-temen bisa googling untuk baca buku ini, karena beberapa website menyediakan filenya baik dalam bahasa asli maupun terjemahannya.
Satu pesan dari buku ini, "Jangan nyerah, ya 😊!"
Ciao Adios, muaa...

Komentar
Posting Komentar